Emosi Pekerja Mempengaruhi Produktivitas Organisasi Anda

Negative Emotions Affect Behavior

Emosi negatif seperti benci , marah, sedih , iri , cemburu dapat mempengaruhi perilaku secara negative, tidak hanya itu emosi negatif juga bisa mengendalikan persepsi terhadap di luar, apalagi emosi negative yang kuat dapat membuat kita seolah din kendalikan olehnya dan dapat terpicu secara cepat sehingga dapat menimbulkan reaksi tertentuyang bisa saja merugikan kita.

Ketika emosi negtif tersebut ada dn merampas fokus kita, dapat membuat hal itu menjadi lebih besar, hal  ini bisa terjadi karena ketika kita berada kembali ke emosi tersebut secra tidak sadar kita membuat nya lebih kuat, sehingga pada saat itulah kita merasa apapun reaksi yang di timbulkan nya menjadi rasional. Emosi negative tidak selalu hal yang kuat atau hal besar , namu tetap saja destrutif bukan pada perilaku namun juga merusak kesehatan. Seperti apa yang di tulis oleh JAMA 6/96 ( Journal American Medical Association) bahwa ternya kemarahan dapat menyebabkan darah tinggi dah serangan jantung, tidak hanya itu dalam organisasi jelas emosi negative dapat mempengaruhi sikap kerja yang berdampak pada turunya produktifitas.

Negative emotion affects organization’s productivity

Emosi dapat memicu otak untuk memproses informasi dengan sangat cepat dan bereaaksi secra spontan. Ketika seseorang berada dalam emosi dapat menimbulkan reaksi tetertentu, contoh nya ketika anda merasa dipermalukan anda bisa langsung bereaksi seperti berteriak atau berkelahi, Reaksi ini biasanyta bersifat “implusive”,  reaksi – reaksi yang sifat nya “impulsive dan disebabkan oleh emaosi negative biasany “counter productive atau bahkan destructive”

Hal ini tidak terjadi pada setiap orang tentunya, ada orang yang reaktif dan ada orang yang tidak, orang reaktif jelas dapat kita lihat bahwa emosi dapat mem[pegrauhi perilaku maupun sikap. Perlu di ketahui orang yang tidak reaktif bukan berarti tidak terpengaruh oleh emosi negative, hanya orang seperti ini tidak terpengaruh secara langsung atau spontan.

Menurut saya emosi negative banyak mempengaruhi kita secara tidak langsung yang dapat memepegaruhi persepsi atau cara pandang kita. Contohnya saja, jika kita merasa di permalukan, ada orang yang tidak langsung beraksi tetapi hal ini dapat mempengaruhi keputusan, gaya kerjasama, cara beradaptasi dengan lingkungan dan bahkan mempengaruhi gaya belajar dari pengalaman mereka, misalnya membuat dia tidak suka dengan orang (baca: orang bukanlah perilakunya), mungkin bisa juga memutuskan untuk tidak bekerjasama dengan orang tersebut, bahkan mungkin menghindari setiap orang yang mempunyai ciri hampir sama seperti orang yang tidak kita sukai.

Hal yang perlu kita sadari bersama adalah kita cenderung men-generalisaikan pengalaman, bayangkan saja ketika kita pernah di sakiti oleh satu orang dapat membuat kita menyama ratakan sikap orang kepada kita di masa depan, ketakutan – ketakutan kita sendiri yang pada akhir nya mengakibatkan dinding batas yang dapat menjadi mental blok penghalang kesuksesan individu dalam organisasi. Perlu diketahui bahwa kemarahan karyawan cebderung menyebabkan sifat agresif yang tidak sehat, walaupun itu kemarahan individu, ini membuat kita tahu pentingnya mengetahui aspek lain selain aspek keterampailan maupun kompetensi. Kesedihan individu dapat memicu ketidak puasan dan ketidak nyamanan. dan konflik antar rekan kerja dapat menyebabkan perselihan yang bisa berdampak pada meningkatkatnya absensi, semakin individu menyimapan emsoi negative di masa lalu maka semakin organisasi punya potensi konflik antar individu, maupun antara individu dan organisasi itu sendiri yang bahkan dapat menyebabkan demostrasi yang bersifat destruktif.

So employee’s emotion is matter!

Positive Emotions Increase Organization’s Productivity.

Mari kita lihat sisi positif dari sebuah emaosi yang setiap manusia miliki, dan ini berlaku dalam organisasi karena organisasi terdiri dari individu yang juga mempunyai emosi.

Emosi poitif dapat memampukan individu mempunyai kepercayaan diri yang dapat mendorong sikap kerja positif dan juga hubungan kerja yang baik di tempat kerja.  Ini juga alas an dimana orang selalu ingin menimbulkan emoasi negative baik di tempat kerja maupun di lingkungan social.

Saat ini adalah saat dimana emosi positif sangant dibutuhkan di tempat kerja, bagaimana tidak ? jika emosi juga dapat mengarah pada job satisfaction. Saya yakin bahwa pekerjaaan bukan di tempat kerja bukan hanya sekedar mencari uang , gaji, jabatan, atau prestasi bnamun juga berkenaan dengan “ Personal Satisfaction”. Tidak  bisa di pungkiri bahwa ini sanagt erat kaitan nya dengan emosi, untuk merasa “satisfied” ada komponen yang sejak tadi saya sebutkan yaitu emosi. Pada umumnya pekerja merasa bahwa emosi atau perasaan yang kita rasakan harus disebabkan oleh orang lain, ini membuat organisasi harus semakin kreatif dalam mencari alternative pendekatan untuk selalu memunculkan emosi positif yang dapat berdampak pada sikap kerja.

Selain hal itu yang makin marak dilakukan oleh organisasi adalah meningkatkan performance para karywawan bahkan banyak alat ukur untuk mengukur performace, termasuk pendekatan bagaimana meningkatkan performance dan employee’s satisfaction sebagai salh satu cara untuk memunculkan emosi positif di tempat kerja.

Emosi positif ini dapat sangat berdampak pada personality, decision making, leadership style bahkan mempengaruhi seseorang dalam menjalan kan tugas dan kewajiban nya dalam organisasi.

Yang harus diperhatikan bagi organisasi adalah bahwa emosi negative di masa lalu yang di bawa noleh sertiap individu ke dalam pekerjaan mereka sangatlkah berdampak bagi kesuksesan organisasi. Mengapa ? emsoi negative di masa lalu yang kebanyakan orang tidak sadari dapat mengkontaminasi cara pandang terhadap tugas – tugas dalam pekerjaaan. Contohnya saja lketika orang berkata “ Saya tidak bisa”  sebenarnya mungkin mereka ingin bilang “Dulu saya tidak bisa” , hal ini terjadi karena keterbatasan yang kita punya saat ini sebenarnya adalah referensi dari pengalaman – pengalaman di masa lalu, dan pengalaman ini biasanya mengandung emosi negative. Time Line Therapy™ sebuah teknologi yand di temukan oleh Dr. Tad James tahun 1980 dapat menjadi salah satu alternative pendekatan untuk membersihkan emosi negative di masa lalu yang dapat di lakukan setiap organisasi dalam rangka meningkatkan produktifitas, karena teknik ini dapat di lakukan massal dan dapat dilakukan dalam bentuk “content free” (baca: tidak perlu menceritakan apa emosi nya dsb ) dan juga prosesnya yang sangat cepat. Dengan membersihkan  emosi negative di masa lalu dapat mengurangi bahkan menghilangkan konflik dalam individu sehingga dalam organisasi dapatb menurunkan konflik antar individu. Aspek kehidupan emsional indidu sangatlah penting diperhatikan tanpa harus menggali dan menguak kehidupan pribadi sesorang, ini sangat mungkin sekali dilakukan dengan Time Line Therapy™ .

Emosi negative yang diperolah setelah Time Line Therapy™ bukan hanya dapat meniggkatlkan produktifitas, melainkan juga dapat menigkatkan kretivitas dan bahkan bisa meningkatkan pelayan pada pelanggan dengan senyum tulus yang bisa digambarkan dari wajah mereka. Ini juga memungkin kan organisasi menaikkan kecepatan dalam kancah kompetisi bisnis dengan rate yang lebih cepat .

oleh: Issa Kumalasari